image_pdfimage_print
Kementrian Agama (Kemenag) RI bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menggelar workshop di Hotel Horison
Kementrian Agama (Kemenag) RI bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menggelar workshop di Hotel Horison

Uji modul pengelolaan lingkungan itu diikuti sejumlah tokoh lintas agama tersebut, diisi oleh narasumber yang merupakan para penulis buku. Modul tersebut, berisi sejumlah Participatory Action Research (PAR) tentang pengelolaan lingkungan di berbagai komunitas.

Jadi, workshop tersebut sekaligus meminta masukan dari tokoh agama dalam pengelolaan lingkungan sesuai kondisi daerah masing-masing.

“Ada tiga tujuan utama digelarnya workshop ini, yaitu kami ingin membangun kesadaran bersama diantara tokoh masyarakat bagaimana pentingnya pemeliharaan lingkungan. Sejauh ini, tokoh agama tidak terlalu dilibatkan, karena dianggap bukan menjadi bagian tugas mereka. Padahal sesungguhnya tokoh agama justru punya peran penting dalam pengelolaan lingkungan,” tutur Kabid Litbang Aliran dan Pelayanan Keagamaan pada Puslitbang Kehidupan Keagamaan Bidang Litbang dan Diklat Kemenag, Kustini.

Perlu dilibatkannya tokoh agama, sambung Kustini, disebabkan tokoh agama merupakan panutan masyarakat. Sehingga apapun yang dilakukan akan menjadi contoh dan pedoman oleh masyarakat. “Ketika tokoh agama bergerak dan berkontribusi untuk pengelolaan lingkungan, kami yakin masyarakat juga akan bergerak bersama,” tambah dia.

Dari kegiatan tersebut, pihaknya ingin mendapatkan masukan terkait isi modul yang sudah dibuat. Nantinya, jika ada masukan penting, maka bukan tidak mungkin akan disertakan di dalam buku. “Kami juga ingin setelah pemaparan ini ada aksi nyata baik di lingkungan komunitas agama masing-masing maupun gerakan bersama lintas agama,” kata dia.

Ketua LPBI NU, M Ali Yusuf menambahkan, ada beberapa poin penting dalam modul tersebut yang dituangkan dalam bab per bab. Selain itu, juga dicantumkan beberapa praktek dalam komunitas masyarakat dengan metode PAR. Yaitu mengenali lingkungan, dan mencari solusi dari persoalan lingkungan yang ada.

“Ada beberapa praktek pengelolaan lingkungan dari sejumlah komunitas seperti komunitas pertanian, hutan, nelayan dan komunitas perkotaan, juga dari sejumlah agama mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu hingga Konghucu. Kami berharap apa yang ada di dalam buku itu bisa diterapkan disini, tentu sesuai dengan kapasitas dan kearifan lokal masing-masing,” tambah dia.

Ali Yusuf mencontohkan, salah satu praktek pengelolaan lingkungan yang dicantumkan dalam buku yaitu dalam mengatasi masalah rob dan abrasi dengan teknologi sederhana di komunitas masyarakat pesisir yaitu menggunakan bendungan yang terbuat dari kayu, dan jerami untuk menahan ombak dan abrasi.

“Modul ini sudah diterbitkan sejak 2013, kami berkeliling ke sejumlah daerah untuk menerima masukan apa saja kekurangan dan mungkin jika bisa diterapkan dan bagaimana hasilnya juga akan menjadi evaluasi kami,” tandasnya. (*) http://www.radarpekalongan.com

Workshop Uji Modul Pengelolaan Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>