image_pdfimage_print

ketua lpbinuDua pekan peristiwa banjir dan longsor di Jakarta, Banten dan Jawa Barat berlalu, namun, belum juga menemui titik terang terkait pemulihan kehidupan masyarakat agar bisa kembali hidup seperti sedia kala. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama 1-21 Januari 2020 terjadi 207 bencana di Indonesia.
Ratusan bencana tersebut terdiri atas 90 kejadian angin puting beliung, 67 peristiwa banjir, 45 kasus longsor, dua kejadian gelombang pasang atau abrasi, dan 3 kasus kebakaran hutan dan lahan.

Dampak nya antara lain korban meninggal dunia mencapai 82 jiwa, hilang 3 orang, dan luka-luka 83 jiwa, pengungsi berjumlah 803.996 orang dan 11.305 unit rumah warga di berbagai daerah mengalami kerusakan belum lagi akses jalan dan jembatan yang terputus.
Melihat kondisi itu, Nahdlatul Ulama sebagai organisasi sosial keagamaan di Indonesia berupaya semaksimal mungkin agar bisa membantu masyarakat memulihkan tempat-tempat warga yang terdampak banjir.
Di antaranya memberikan bantuan logistik, uang tunai dan dengan cara terjun langsung membantu masyarat di lokasi banjir serta dengan cara-cara lain yang berimplikasi pada normalnya aktivitas warga. Merefleksikan kejadian bencana yang menimpa sebagian
Indonesia tersebut, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Muhammad Ali Yusuf mengatakan, semua pihak harus bekerja sama mencari akar masalah yang menyebabkan bencana alam muncul. Hal itu harus dilakukan secara terus menerus, tidak boleh berhenti dan merasa cukup sebab cuaca dan kejadian alam kerap tak terbaca secara komprehensif. Ia menjelaskan, penyebab bencana harus dianalisis, harus dibaca dan dipetakan agar seluruh komponen mengetahui hal-hal apa saja yang mesti dilakukan agar banjir, longsor dan kejadian alam tidak menimpa wilayahnya.
“Evaluasinya, penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu pihak dari hulu sampai ke hilir, penyebab bencana juga harus mulai dibaca, dianalisa dari sekarang,” tuturnya, Rabu (23/1).

Refleksi Bencana: Pemetaan Penyebab Banjir dan Longsor Harus Ditingkatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>