lingkunganRAMADAN membawa banyak kegembiraan bagi semua umat Islam. Sebab, banyak keutamaan-keutamaan pada bulan suci umat Islam tersebut, salah satunya adalah adanya malam lailatul kadar, yang keutamaannya sama dengan seribu bulan.

Pada bulan ini pula, selain kewajiban mengeluarkan zakat fitrah, para orang mampu secara ekonomi tergerak hati untuk memberikan (memberikan santunan) dari hartanya yang berlebih, berbagi kepada orang-orang miskin, fakir, dan juga anak yatim.

Masjid-masjid, mushala, pesantrenpesantren, hingga sekolah-sekolah (madrasah), juga semarak dengan kajiankajian keagamaan. Dan yang tak ketinggalan, tadarus Alquran menjadi hal yang seakan tak boleh terlewatkan. Namun ada hal lain yang menarik, bahwa Ramadan, sebenarnya membawa banyak spirit bagi pembangunan manusia dan kehidupan.

Adalah peristiwa turunnya Alquran (Nuzulul Quran) pada 17 Ramadan, dengan Iqraí sebagai ayat pertama dari lima ayat yang diturunkan. Kata Iqraí (bacalah), ini memiliki makna yang luar biasa. Perintah membaca ini membawa dua pemaknaan sekaligus, yakni membaca teks dan membaca konteks.

Pembacaan atas konteks ini, merupakan spirit pembangunan kemanusiaan dan kehidupan dalam berbagai bidang. Melalui pembacaan atas konteks ini, melalui spirit Ramadan, perlu kiranya diinternalisasikan kesadaran pelestarian lingkungan (alam), bagi seluruh rakyat di negeri ini.

Karena disadari atau tidak, kesadaran terhadap pelestarian lingkungan ini, kian hari kian luntur dalam sanubari masyarakat. Contoh kecil, adalah banyaknya masyarakat yang suka membuang sampah sembarangan, yang berdampak tidak sekadar mengotori lingkungan, juga bisa membawa dampak buruk lain, yakni datangnya bermacam penyakit.

Banyaknya masyarakat, khususnya umat Islam yang suka membuang sampah sembarangan ini, tidak hanya memunculkan keprihatian, tetapi sekaligus melahirkan pertanyaan mendasar, yaitu apakah mereka yang suka membuang sampah sembarangan itu tidak tahu, bahwa menjaga kebersihan adalah sebagian daripada iman? Kesadaran lingkungan lain yang perlu ditanamkan dalam sanubari umat Islam dan seluruh rakyat di negeri ini, adalah agar jangan merusak lingkungan seenaknya.

Sebab, dampak dari perusakan lingkungan akan berakibat buruk, bisa menjadi penyebab tanah longsor dan banjir bandang, misalnya. Rakyat secara keseluruhan mesti menyadari dan memahami, bahwa alam itu tidak sekadar aset pribadi, melainkan tempat hidup dan sumber mencari penghidupan, yang kelak akan diwariskan kepada generasi penerusnya.

Semoga Ramadan kali ini, selain kegembiraan dan berlimpah pahala yang diharap umat Islam, juga mampu menghadirkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam (lingkungan). Dengan terjaganya kelestarian alam, maka kehidupan akan berjalan secara harmonis dan seimbangWallahu aílam.

Sumber: http://berita.suaramerdeka.com