image_pdfimage_print

BsNSeorang lelaki bertopi tengah memilin-milin kertas koran di depan gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Senin (23/4). Sesekali, ia memasukkan jarinya ke botol lem. Pria bertopi dan berkacamata itu sedang membuat boneka. Namanya Yusuf Dullahi.

Berbeda dengan Yusuf, ada juga Ai Rosita mengisi botol-botol minuman kosong dengan plastik-plastik kering. Setelah memasukkan potongan plastik bekas bungkus sabun deterjen, kopi, dan sebagainya, ia memasukkan sebilah potong bambu guna menekan atau memadatkan plastik itu hingga memenuhi ruang kosong botol itu. Botol-botol itu lalu disatukan dengan lem yang bisa berguna sebagai tempat duduk.

Siang itu, mereka tengah mengampanyekan hari bumi internasional yang jatuh pada Ahad (22/4). Dengan melakukan hal itu, mereka tengah menunjukkan bahwa barang yang selama ini banyak orang menganggapnya sebagai sampah dapat dikelola menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual. Selama ini, sampah hanya dibuang lalu dibiarkan menumpuk. Hal itu tentu menuai bau tak sedap.

Keduanya merupakan pengurus Bank Sampah Nusantara (BSN) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU). Ai sebagai pengurus bagian pemasaran mengatakan bahwa produk hasil olahan sampah itu sudah diedarkan ke toko-toko tertentu. Selain itu, beberapa tamu yang berkunjung ke PBNU juga kerap kali diberikan kenangan dari hasil kreativitas BSN.

“Penjualannya itu melalui pameran-pameran, display ke BSN dan media sosial juga,” katanya.

Saban Jumat, BSN menerima tabungan sampah dari seratusan nasabahnya. Minimal satu kilogram sampah non-organik, mereka akan mendapatkan uang yang akan langsung ditabungkan ke bank

 

Peringati Hari Bumi, LPBI NU Ajak Masyarakat Kelolah Sampah

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>