image_pdfimage_print

penanggulangan-bencana-berbasis-masyarakat

Judul : Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Islam
Penyusun : A. Fawai’id Syadzili, Sultonul Huda, Otong Abdurrahman, Ir. Avianto Muhtadi, MM, Imdadun Rahmat, M.Si
Penerbit : PMU Community Based Disaster Risk Management Nahdlatul Ulama (CBDRM NU)
Jumlah Halaman : xxiv + 193 hlm

Tak dapat dipungkiri, Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia.

Indonesia memiliki gunung berapi dengan jumlah kurang lebih 240 buah, di mana hampir 70 di antaranya masih aktif. Selain factor geografis, fenomena bencana terjadi akibat pengelolaan sumber daya alam besar-besaran yang tidak dibarengi dengan tanggung jawab untuk mengembalikan keseimbangan alam. Selain alasan komersial, eksploitasi yang berlebihan juga terjadi karena paradigm pembangunan dan pendekatan sektoral yang digunakan. Sumber-sumber penghidupan diperlakukan sebagai asset dan komoditi yang bisa dieksploitasi untuk kepentingan sesaat dan kepentingan kelompok tertentu, sedangkan akses dan control ditentukan oleh siapa yang punya akses kepada kekuasaan. Pertanyaannya, apakah bencana dapat dihindari? Jawabannya, tidak bisa, tetapi sebaliknya ancaman bisa dihindari. Apakah bencana dapat diminimalisir atau ditanggulangi? Jawabannya, bisa.

Upaya meminimalisir resiko dan dampak bencana merupakan kewajiban setiap orang. Kita diperintahkan untuk menjaga diri, keluarga, dan lingkungan supaya terhindar dari malapetaka. Segala upaya dan sarana yang dapat menghindarkan bencana harus dilakukan, baik bersifat fisik maupun non fisik. Setiap bencana alam pasti mengakibatkan kerugian material dan immaterial bagi masyarakat di sekitarnya. Apalagi jika masyarakat tidak memiliki pengetahuan tentang bencana alam. Ketidaksiapan masyarakat dalam mengantisipasi bencana mengakibatkan besarnya korban jiwa dan kerugian ekonomi setiap terjadi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, dan longsor. Di sinilah responsibility dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Actor utama dalam penyelamatan jiwa dan harta benda adalah masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, membangun kemampuan diri untuk mempunyai pengetahuan dan kemampuan melakukan penyelamatan diri bagi masyarakat yang rentan terhadap bencana adalah prinsip dasar dalam penanggulangan bencana.

Selain hal di atas, hal lain yang tidak kalah penting adalah penggalangan kerjasama dari seluruh pihak atau multistakeholders. Kemampuan seseorang ada batasnya. Tidak mungkin satu orang atau satu organisasi mampu melakukan penyelesaian terhadap semua masalah. Begitu juga menyangkut soal penanggulangan bencana. Upaya dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dibarengi dengan kerjasama dan koordinasi dari semua pihak.

Buku Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Islam memberikan strategi untuk menanggulangi bencana yang ideal dan komprehensif. Dalam buku ini dijelaskan bahwa actor utama dalam upaya penanggulangan bencana adalah masyarakat. Oleh sebab itu, sudah merupakan keharusan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat agar memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menanggulangi bencana. Selain itu, upaya penanggulangan bencana dan pengurangan resiko bencana memerlukan kerjasama yang comprehensive antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama bergandeng tangan dan bekerja sama dalam merumuskan langkah-langkah preventif sampai tindakan rehabilitative terhadap bencana alam. Keterlibatan seluruh pihak yang berhubungan dengan bencana alam dapat meminimalkan resiko terjadinya bencana alam dan tentu berimbas pada penekanan kerugian yang ditanggung oleh masyarakat.

Sejauh ini telah tersedia perangkat regulasi penanggulangan bencana, yaitu UU Nomor 24 Tahun 2007 yang memberikan kerangka penanggulangan bencana, meliputi prabencana, tanggap darurat, dan pascabencana. Namun, korban masih berjatuhan dalam jumlah besar tiap kali bencana terjadi. Masyarakat kehilangan keluarga dan harta benda yang menopang hidup mereka selama ini. Babak baru kehidupan pun dimulai. Tatapan kosong mata menatap hari depan yang penuh dengan ketidakjelasan.

Dalam perspektif agama, upaya penanggulangan bencana, baik tahap pencegahan, kesiapsiagaan, mitigasi, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi merupakakn bagian dari ajaran agama dan termasuk jihad karena menyangkut keselamatan hidup dan peradaban manusia. Dalam konteks pengurangan resiko bencana, diperlukan komitmen bersama semua pihak untuk melakukan ikhtiar fisik dan ikhtiar spiritual. Ikhtiar fisik meliputi pemeliharaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, dengan menjaga kelestariannya agar tidak merusak keseimbangan ekosistem serta menggunakannya seefisien mungkin. Selain itu, Islam juga mengajarkan umatnya untuk melakukan ikhtiar spiritual dalam upaya PRB. Setelah melakukan ikhtiar fisik dengan tindakan preventif penanggulangan bencana, ikhtiar spiritual juga harus dilakukan. Manusia harus sadar bahwa dia adalah ciptaan Allah, dan kepada Allah lah manusia memohon pertolongan. Di antara ragam cara dalam melakukan ikhtiar spiritual ini adalah dengan berdoa kepada Allah.

Nahdhatul Ulama mengembangkan gerakan penanggulangan bencana dengan menggabungkan pengetahuan yang berbasis sains dan teknologi serta pengetahuan yang berbasis agama dan tradisi setempat. meliputi aspek preventif, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi. Perspektif yang dibangun NU tentu tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang selama ini menjadi sandaran NU, yaitu ahlussunnah wal jama’ah dengan pola pendekatan tawazun, tawasuth, I’tidal, tasamuh dan amr bi al-ma’ruf wa nahy al al-munkar. NU sebagai bagian dari masyarakat memiliki posisi strategis dalam upaya penanggulangan bencana. Keterlibatan NU akan mempercepat upaya sosialisasi, diseminasi maupun pendidikan manajemen resiko penanggulangan bencana kepada masyarakat.

Melihat demikian kompleksnya materi yang disajikan, buku ini layak menjadi referensi dan sandaran bagi masyarakat dalam menanggulangi bencana. Meskipun ditulis dengan bahasa ilmiah yang sedikit kaku, tetapi buku ini mampu membuka wawasan dan membekali pembacanya dengan pengetahuan dan ketrampilan untuk melakukan upaya penanggulangan bencana. Selain memberikan strategi-strategi yang harus dilakukan dalam setiap tahapan upaya penanggulangan bencana, buku ini juga sangat kaya dengan contoh konkret praktik penanggulangan bencana berbasis masyarakat dan agama.

Sejatinya, setiap manusia memiliki hak untuk merubah takdirnya sendiri. Kita sendirilah yang dapat meyelamatkan diri kita sendiri ketika ancaman bahaya bencana terjadi. Hanya dengan kemampuan yang didasarkan pada pengetahuan dan ketrampilan dalam melakukan pengelolaan bencana, resiko korban dan kerugian material dapat dikurangi.
(zuliati)

Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Islam

One thought on “Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat Dalam Perspektif Islam

  • Maret 13, 2016 at 4:38 am
    Permalink

    Sudah seharusnya masyarakat sadar dengan lingkungannya sebagai salah satu upaya penanggulangan bencana yang

    Salam tanggap dan peduli bencana

    Reply

Tinggalkan Balasan ke ACT.ID Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>