image_pdfimage_print

lpni-ponorogoKamis (10/8) menjadi hari yang bersejarah bagi Witono sekeluarga. Sekitar pukul 07.00 WIB para tetangga dekat mendatangi rumah orang tuanya di pinggiran Desa Krebet, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sebuah kenduri sederhana ia gelar sebagai simbol kesyukuran dan sarana berdoa agar pembangunan rumahnya mendapat ridla Allah SWT.

Perwakilan NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU) Ponorogo dan rombongan relawan LPBINU (Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU) ikut serta dalam acara penuh khidmah itu.

Setelah Pak Witono, demikian ia biasa disapa, secara singkat menyampaikan maksud diadakannya kenduri, Kepala Dusun setempat memimpin seremoni kenduri dengan melafalkan ‘ujub’. Ia sebutkan makna dan tujuan penyediaan setiap jenis makanan yang disedekahkan saat itu. Adapun doa dipimpin Ahmad Subeki Ketua LPBINU Ponorogo dan Noor Abidin dari LBMNU (Lembaga Bahtsul Masail NU) Ponorogo.

Usai kenduri para relawan LPBI NU segera memulai penggalian pondasi bangunan rumah Pak Witono. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Plt. Ketua PCNU Ponorogo Gus Kholid Ali Husni, yang hadir juga dalam kapasitas sebagai pengurus Baznas Kabupaten Ponorogo.

Pak Witono sekeluarga adalah korban kebakaran rumah dua minggu yang lalu. Keluarga pria yang aktif menjadi Imam rawatib masjid di dusunnya itu memang dikenal sebagai keluarga sangat miskin. Nyaris hanya pakaian yang melekat di badannya begitu rumahnya ludes terbakar.

Diawali dengan penyaluran bantuan alat masak dan sembako oleh LPBINU Ponorogo seminggu yang lalu, kini giliran NU Care-LAZISNU Ponorogo turun tangan dalam pendanaan program bangun rumah itu. Adapun LPBINU berperan dalam menerjunkan relawannya untuk membangun rumah Pak Witono dengan dana dari NU Care-LAZISNU.

Saat dihubungi di tempat terpisah, Sekretaris NU Care-LAZISNU Ponorogo Sumarlin menjelaskan, program NU-Care-LAZISNU secara nasional ada empat, yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan.

Ia juga menambahkan, penyaluran zakat ditujukan untuk 8 golongan sesuai ketentuan dalam Al-Qur’an, sedanggkan untuk infak dan sedekah lebih fleksibel,  mengacu pada syarat dan ketentuan yang sudah diatur dalam SOP NU Care-LAZISNU.

“Khusus bantuan  untuk Pak Witono masuk dalam program kebencanaan. Kami sudah melakukan survey dan cek and ricek, beliau layak dan harus dibantu karena  kondisi ekonominya yang jauh di bawah garis kemiskinan,” ungkap Sumarlin.

Lebih lanjut Sumarlin mengungkapkan bahwa pihaknya menginginkan rumah Pak Witono setelah dibangun akan lebih layak huni. Ia juga berharap ada kerja sama dengan pihak pemerintah desa.

“Pihak yang dibantu harus berusaha membangun kembali rumahnya, kalau bisa lebih baik dari bangunan rumah sebelumnya. Tentunya dengang melakukan koordinasi dengan perangkat desa. Di internal NU pihak NU Care-LAZISNU menggandeng LPBINU untuk menerjunkan relawannya dalam rangka membantu pembangunan rumah Pak Witono,” ungkap Sumarlin.

Saat berita ini ditulis, pembangunan rumah ukuran 10 x 5 meter persegi masih berlangsung, dan direncanakan akan selesai dalam satu minggu ke depan

NU Ponorogo Bangunkan Rumah untuk Korban Kebakaran

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>