image_pdfimage_print

bsn-lpbinuDeretan patung mungil dengan pose menari berjejer di atas meja depan ruang pelatihan salah satu hotel di Jakarta.

Bertubuh semampai dengan tinggi dua rentang telapak tangan, patung-patung itu mengenakan beragam kostum. Ada yang mengenakan kemben, bersanggul, dengan selendang di lengan, ada juga yang berkebaya dengan selendang di bahu dan kipas di tangan kiri. Lainnya tampak mencerminkan seorang laki-laki dengan pose melenggang.

Siapa sangka jika patung bertekstur dengan selera tinggi itu berasal dari limbah kertas koran. Pembuatnya adalah pegiat komunitas yang tergabung dalam Bank Sampah Nusantara (BNS) Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nadhatul Ulama (LPBI NU)

Direktur BSN Fitria Ariyani sekaligus bendahara LPBI NU mengatakan, saban hari, ketimbang membuang sampah ke tempat pembuangan, pegiat BSN rajin mengumpulkan, membersihkan, dan menyulapnya menjadi beragam hiasan atau benda layak pakai.

“Menjadi tas, bantal, payung, patung, bahkan kursi,” kata Fitria kepada Anadolu Agency di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kelola sampah jadi ibadah

Sudah sejak beberapa tahun lalu NU tak hanya konsern pada isu sosial keagamaan. Salah satu organisasi masyarakat keagamaan terbesar di Indonesia yang berjargon Islam Nusantara ini juga mengurusi persoalan lingkungan. Misalnya penguatan masyarakat untuk merespon perubahan iklim, penanaman pohon, juga pengelolaan sampah.

Terkait pengelolaan sampah saja, saat ini LPBI NU memiliki 120 komunitas bank sampah di seluruh Indonesia. Sebanyak 50 di antaranya dikelola oleh pesantren-pesantren yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur. Sekitar 40 persen komunitas itu sudah bergerak hingga ke daur ulang sampah, sisanya baru sebatas mengumpulkan sampah dan menjualnya kepada pengepul.

“Bertahap, pada akhirnya mereka akan mendaur ulang juga,” kata Fitria.

Fitria mengatakan tiap bank sampah menghasilkan hasil daur ulang berbeda, bergantung karakter daerah dan sumber daya yang ada. Misalnya di Jakarta, lokasi bank sampah didominasi perkantoran yang menghasilkan limbah kertas koran, maka hasil daur ulangnya pun berupa patung kertas dan berbagai kerajinan kertas lainnya.

Sedang komunitas bank sampah di Cilacap banyak memperoleh limbah handuk. Maka pegiat bank sampah setempat mencampur handuk bekas itu dengan semen dan menyulapnya menjadi pot bunga.

Sementara pegiat bank sampah di Jawa Tengah membuat lubang biopori di halaman rumah dan memasukkan sisa makanan ke dalamnya. Organisme di dalam tanah akan memproses sisa makanan itu menjadi pupuk yang menyuburkan tanah.

“Kami berupaya tidak memubazirkan makanan, barang mubazir temannya setan, dan pada akhirnya kami memanen hasil tanam bersama,” kata dia.

Sebagian karya kerajinan tangan pegiat bank sampah didistribusikan lewat jaringan gerai Smesco. Lainnya dipasarkan lewat media sosial seperti Twitter dan Instagram.

Hasilnya luar biasa, dari penjualan bank sampah saja, LPBI NU mencatatkan pemasukan Rp300-400 juta pada tahun lalu.

Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, kata Fitri, namun dia tetap menekankan dampak lingkungannya. Misalnya berapa jumlah karbondioksida yang dapat ditekan dengan mengelola sampah. Atau bagaimana mencari solusi atas jenis sampah yang tidak memiliki layak jual.

“Kalau hanya mengejar omset apa bedanya kami dengan pengepul, upaya kami memang lebih mendorong ke nilai lingkungannya,” ungkap Fitri.

LPBI juga terbiasa memberikan karya kerajinan tangan hasil daur ulang itu kepada tamu-tamu yang berasal dari luar negeri.

Beberapa waktu lalu LPBI NU menggelar pelatihan pendamping pengelolaan sampah. Dengan peserta dari 60 komunitas bank sampah, mereka berasal dari Jakarta, Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang, Jawa Tengah, Lampung, Pontianak, Yogyakarta, dan Bali.

Dengan adanya pelatihan itu, harapannya ide-ide pengelolaan sampah akan menular ke masyarakat lain.

“Sehingga komunitas bank sampah bertambah, dan jumlah sampah dapat berkurang,” kata Fitri.

Target satu dekade NU

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nadhatul Ulama (PBNU) Suwadi Pranoto mengatakan sampah dan limbah menjadi persoalan di banyak tempat. Oleh karena itu, Muktamar NU yang digelar di Jombang 2015 lalu mengamanatkan agar lembaga ini berkontribusi dalam pengelolaan sampah.

“Dulu sampah dianggap kotoran, namun kini maknanya harus berubah sesuai bentuk dan sifatnya,” kata Suwadi.

Pengelolaan sampah ini juga menjadi salah satu target yang harus dicapai pada peringatan satu dekade NU 2026 nanti. Apalagi mengelola sampah sejalan dengan ajaran Islam bahwa kebersihan itu sebagian daripada iman.

Oleh karena itu, mengelola sampah juga menjadi bagian dari ibadah. Sekaligus bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

“Menyebarkan kebaikan lewat kampanye pengelolaan sampah juga termasuk amar ma’ruf, perintah kebaikan dalam Islam,” kata dia.

Makanya, pengelolaan sampah juga harus dikaji dengan rigid. Tantangannya tak sekadar persoalan etik tapi juga teknologi.

“Bagaimana agar sampah tak sekadar reuse, tapi juga recycle,” ujar dia.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Rosa Vivien Ratnawati mengatakan seiring perkembangan teknologi dan pertumbuhan penduduk, pola hidup masyarakat kian berubah.

Misalnya, jika dulu masyarakat pergi ke pasar dengan menenteng tas jinjing untuk wadah hasil belanja, fenomena itu sudah hilang, masyarakat menggantinya dengan tas plastik yang tersedia dan dijual murah di pasaran.

Begitu pula dengan budaya menenteng botol minuman ketika bepergian. Berganti dengan membeli air mineral dalam botol plastik di perjalanan.

“Semua orang inginnya cepat, simpel dan praktis,” kata Vivien.

Dampaknya, sampah yang dihasilkan kian menumpuk. Dengan asumsi setiap orang menghasilkan 0,7 kg sampah per hari, KLHK mencatat terdapat 65 juta ton yang dihasilkan seluruh masyarakat Indonesia pada 2016.

Sampah-sampah itu terdiri dari 57 persen organik, 16 persen sampah plastik dan 10 persen sampah kertas.

Peraturan Presiden RI Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga menargetkan 70 persen sampah di Indonesia terkelola dengan baik pada 2025.

KLHK sudah sudah meminta gubernur, bupati dan walikota untuk menyusun strategi daerah pengelolaan sampah daerah. Sekaligus meminta mereka untuk mengidentifikasi kegiatan bank sampah yang ada di masyarakat.

Berdasarkan catatan KLHK, sejauh ini sudah terdapat 544 bank sampah yang tersebar di 219 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Pengelolaan sampah itu menghasilkan rupiah tak sedikit, misal bank sampah Jakarta Barat yang menghasilkan Rp3,4 miliar dalam setahun.

“Akhirnya sampah jadi berkah, bukan kotoran yang harus dibuang,” kata Vivien.

Sumber: https://www.aa.com.tr

‘Ngaji’ Manajemen Sampah Islam Nusantara

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>