LPBINU Ponorogo2Aksi sosial penanggulangan bencana yang digelar LPBI NU Ponorogo, Ahad (4/3) berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya. Kegiatan bertajuk pengurangan potensi bencana dan merawat 1000 mata air di Ponorogo ini melibatkan anak usia dini.

“Siswa RA Muslimat di Sampung sengaja kita libatkan untuk mengenalkan pentingnya merawat mata air,” ungkap Novi Trihartanto Ketua LPBI NU Ponorogo dalam keterangan rilisnya kepada NU online Ponorogo.

LPBI NU dalam menggelar kegiatan itu tidak sendirian, berbagai komponen ikut mendukungnya. Di antaranya Banom NU Kecamatan Sampung, terdiri dari PAC GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, LPSNU Pagar Nusa dan Muslimat NU. Turut pula sebagai pendukung otoritas kehutanan Sampung, RAPI, BPBD, PWI, organisasi pencak silat dan warga sekitar hutan setempat.

Lebih lanjut Novi menyebut, gerakan yang dilakukan di hutan Sampung ini selain dioptimalkan sebagai edukasi kepada anak-anak, juga untuk membangun partisipasi masyarakat.

“Gerakan pengurangan resiko potensi bencana dan merawat 1000 mata air ini dilakukan dengan melibatkan semua potensi masyarakat, pemerintah dan dunia usaha,” tuturnya.

Aan Hamdani ketua PAC GP Ansor Sampung merasa bangga bisa ikut melibatkan diri pada kegiatan ini.

“Saya berterimakasih kepada LPBINU Ponorogo atas support bibitnya,” kata Aan yang baru saja terpilih sebagai ketua PAC GP Ansor Sampung ini.

Aan merinci, sejumlah 500 bibit disumbangkan untuk kegiatan ini.

“Ada trembesi, sengon, jambu mente, apulkat, sirsak dan bunga,” tambah Aan.

Aan juga berharap kegiatan ini dilaksanakan agar dapat memicu kesadaran warga setempat untuk menjaga alam tetap lestari.

“Kita mulai bangun kesadaran mulai dari usia anak dini,” ucapnya.

Aan menegaskan akan ada tindak lanjut dari kegiatan ini bersama dengan pengelola kehutanan Sampung.

“Yang akan ditindaklanjuti adalah upaya untuk merawat dan melakukan penyiangan tanaman pasca di tanam,” pungkasnya.