image_pdfimage_print

BANK SAMPAH NUSANTARA LPBINUDirektur Bang Sampah LPBI PBNU Fitria Aryani mengungkapkan tentang kecenderungan masyarakat yang sudah banyak membentuk bank sampah sekalipun kecenderungannya karena adanya keuntungan secara ekonomi. 

Menurutnya, meski kecenderungan itu cukup disayangkan, tetapi hal itu bisa menjadi pintu masuk agar masyarakat lebih tertarik mengelola sampah. 

“Sedikit demi sedikit kalau kita membentuk bank sampah cabang LPBI, kita selalu menekankan di dalam visi misi agar tidak hanya mengejar profit, tapi juga menciptakan benefit. Jadi artinya, tidak melulu persoalan ekonomi, tapi prioritas itu adalah isu sampahnya itu yang harus dikedepankan temen-temen,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (25/4).

Hal itu ditekankan LPBI agar masyarakat yang mempunyai bank sampah selalu memiliki perhatian tentang pentingnya menjaga lingkungan. 

“Ini yang sedang dikejar oleh teman-teman LPBI PBNU melalui BSN-nya melalui kesadaran-kesadaran itu. Kalau ini ada kesadaran bahwa yang prioritas adalah isu lingkungan, bukan Pemberdayaan nya ya insyaallah bank sampah akan lancar,” ujarnya. 

Menurutnya, sebelum mengedukasi masyarakat di daerah, LPBI selalu memetakan dulu. Apakah suatu daerah masuk ke dalam kategori terdampak bencana dan tidak. Menurutnya, jika  daerah yang terdampak bencana, maka strategi yang dipakai adalah dengan memperlihatkan dampak bencana yang akan terjadi kalau masyarakat tidak mau mengelola sampah, seperti akan terjadi banjir.

Sementara untuk daerah yang tidak terkena dampak bencana, maka yang didengungkan LPBI adalah pemberdayaan ekonomi agar masyarakat menjadi tertarik. 

“Jadi setiap kali LPBI mau membentuk bank sampah di berbagai komunitas, sekolah, pesantren, kita melakukan studi lingkungan,” ujarnya. 

Ia mengaku banyaknya permintaan ke LPBI agar membentuk bank sampah menjadi kecenderungan di masyarakat karena anggapan bahwa bank sampah menghasilkan profit yang besar. Persoalan itu harus diwaspadai karena sampah memiliki pengggolongan, yakni sampah organik dan non organik. 

Ia mencontohkan bahwa bank sampah membutuhkan jenis sampah non organik. Oleh karena itu, jika tidak ada sampah non organik, maka bank sampah tidak akan berjalan.

“Analisis-analisis yang seperti itu yang coba kita minta mereka lakukan di awal sebelum membentuk bank sampah. Jadi kendala seperti lahan, pengepul bisa diselesaikan di awal,” katanya.

 

LPBI NU: Kesadaran Pengelolaan Sampah Masih Sebatas Orientasi Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>