image_pdfimage_print

Gresik, LPBI NU
Pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Jawa Timur melayani kebutuhan logistik korban banjir di Gresik. Mereka membuat dapur umum di salah satu titik lokasi yang tidak tergenang air, di pendopo kelurahan Iker-Iker kecamatan Cerme, Gresik.

Setelah meneliti dan berembuk dengan perangkat desa, mereka sepakat memilih logistik sebagai bentuk bantuan. “Karena dengan kondisi rumah yang terendam banjir, tidak ada lagi kesempatan bagi penduduk untuk bisa melakukan kegiatan memasak,” kata Ketua LPBI NU Jatim kepada NU Online, Kamis (19/2).

Dibantu 20 personel dari Social Emergency Renspons (SER) yang dimiliki, LPBI NU Jatim membuat dapur umum. “Letaknya di pendopo yang memang relatif tidak terlalu parah terkena imbas banjir,” katanya.

Setiap harinya LPBI Jatim menyiapkan 1000 bungkus nasi untuk para korban banjir. Bahkan para relawan harus mengantarkan sendiri nasi bungkus itu kepada para penduduk yang sebagian besar bertahan di rumah masing-masing.

“Kami menggunakan 5 perahu karet untuk keperluan mengantar nasi bungkus ke setiap rumah penduduk,” ungkapnya.

Selama banjir melanda, tim relawan menyediakan makan dua kali dalam sehari. “Pagi dan sore kami harus menyiapkan kebutuhan makanan penduduk dan mengantarkannya ke rumah masing-masing,” katanya.

Meskipun terasa berat, aktivitas terasa ringan oleh bantuan sejumlah pengurus GP Ansor Cerme. Pihak perangkat desa setempat mengapresiasi apa yang dilakukan relawan dari LPBI NU Jatim ini. “Saya bisa istirahat sejenak, karena sebelumnya tidak bisa tidur,” kata Gus Muhdhor menirukan perkataan kepala desa setempat.

Selama banjir, kepala desa dengan dibantu perangkat yang lain harus berjibaku menyiapkan kebutuhan makan warganya. Dengan 1000 bungkus makan yang ada, untuk sementara para penduduk tidak lagi memikirkan kebutuhan makan harian. “Bahkan kelebihan dari makanan yang ada yakni sekitar 200 bungkus kami berikan ke sejumlah desa terdekat,” pungkas Gus Muhdhor.

Banjir yang menggenang salah satu desa di Gresik, nyaris membuat aktivitas para penduduk lumpuh lantaran ketinggian air mencapai hampir dua meter. Dengan ketinggian air seperti itu, rumah penduduk tidak bisa lepas dari genangan air.

“Ada yang menggenangi lantai, bahkan tidak sedikit yang hanya menyisakan atap dan genting rumah,” tandas Gus Muhdhor.(NUol)

LPBI NU Jatim Suplai Logistik Korban Banjir Gresik

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>