pesantren_hijauIndonesia mengalami darurat sampah. Jutaan ton sampah menumpuk setiap tahunnya, tetapi hanya sedikit saja yang bisa diolah kembali. Tak ayal, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menggelar ‘Pesantren Hijau.’

Ketua LPBI NU Muhammad Ali Yusuf mengungkapkan bahwa hijau menjadi nama dalam program tersebut mengingat warna tersebut melambangkan kesuburan, harmoni, dan kelestarian.

“Kenapa juga kita pilih istilah Pesantren Hijau, karena dari pesantren kita berharap dalam rangka menghambat laju dampak kerusakan lingkungan itu bisa kita laksanakan paling tidak tidak menambah kerusakan lingkungan sehingga dampaknya bisa kita kurangi,” katanya saat memberikan sambutan pada acara Bedah Modul Pesantren Hijau di Gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (16/8).

Sebab, menurutnya, mengurangi dampak atau mengembalikan lingkungan kepada keadaan normal sangat membutuhkan waktu yang lama. “Kalau mengurangi atau menormalkan kembali kita butuh waktu yang sangat lama dan tidak mungkin dalam waktu dekat karena kondisinya sudah seperti ini,” ujarnya.

Perlunya konsen dalam isu lingkungan juga dikuatkan dengan berbagai peristiwa bencana akhir-akhir ini. “Bukti bahwa kenapa kita perlu konsen di keresahan lingkungan hidup adalah dan ini kaitannya dengan bencana karena kami lembaga yang membidangi dua bidang ini, penanggulangan bencana dan iklim,” jelasnya.

Mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ali Yusuf mengungkapkan bahwa kejadian bencana yang ada di Indonesia 10 tahun terakhir 95 persen karena bencana kerusakan lingkungan yang istilahnya hydro meteorological disaster.

Ia menjelaskan bahwa ada dua tipe. Tipe pertama seperti bencana geologis seperti bencana gempa, meletusnya gunung berapi, dan tsunami. Tipe kedua seperti bencana banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan yang banyak andil dari tangan-tangan atau kelakuan manusia sendiri.

“Karena banjir itu jelas, kita semua tahu karena perubahan lingkungan yang karena sungai semakin tidak terawat, kemudian longsor karena hutannya gundul yang juga memicu kekeringan karena musimnya berubah atau yang anomali, kemudian juga ada kebakaran hutan, kita semua tahu kebakaran hutan lebih karena andil manusia yang ada di situ,” terangnya.

Oleh karena itu, mau tidak mau, menurutnya, hal tersebut sudah wajib menjadi konsen bersama. paling tidak, katanya, dapak kerusakan lingkungan hidupnya dapat dikurangi. (Syakir NF/Muchlishon)