kaltengPalangkaraya, LPBI NU
Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) membagikan 11.000 masker kepada warga terdampak asap di Kalimantan Tengah, 22-23 September 2015. Aksi kemanusiaan ini dilakukan di tiga titik, yaitu Puntun, Kelampangan, dan Menteng. Tiga daerah tersebut berada di wilayah Palangkaraya.

Pembagian masker dilakukan berdasarkan hasil kajian atau assessment yang dilakukan oleh relawan LPBI NU Kalimantan Tengah. Relawan LPBI NU Kalimantan Tengah berharap langkah ini bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan kabut asap yang sudah hampir satu bulan menyelimuti Kalimantan Tengah.

Pengurus dan relawan LPBI NU Kalimantan Tengah juga melakukan kampanye lingkungan hidup dengan memasang puluhan spanduk berisi imbauan untuk menghentikan pembakaran hutan dan lahan. LPBI NU mengajak masyarakat untuk memelihara kelestarian lingkungan di beberapa titik strategis di wilayah Palangkaraya.

Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lain ini melanda wilayah Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kabut asap juga menyebar ke sejumlah daerah di sekitar enam provinsi tersebut. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat ada 156 titik panas sumber kabut asap di Sumatera dan Kalimantan. Dari 156 titik tersebut, 95 titik di Sumatera dan 61 titik di Kalimantan.
Perlu Penanganan Serius
Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya sebanyak 25,6 juta jiwa terpapar dan tersebar di Sumatera dan Kalimantan. BNPB menaksir kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 ini lebih dari Rp 20 triliun. Kerugian tersebut mulai dari kerusakan lingkungan, terhambatnya kegiatan ekonomi, hingga terganggunya kesehatan masyarakat.

Ketua LPBI NU Kalimantan Tengah Awaludin Noer mengatakan, kabut asap yang melanda Kalimantan Tengah menyebabkan kesehatan masyarakat terganggu karena kualitas udara sangat menurun. Selain itu, kabut asap juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan, terutama ekonomi dan lingkungan.

Menurutnya, saat ini masyarakat Kalimantan Tengah sangat membutuhkan masker untuk mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan oleh kabut asap. Bantuan masker dari LPBI NU, imbuhnya, sangat bermanfaat bagi masyarakat Kalimantan Tengah yang setiap hari melakukan aktivitas di tengah kepungan asap.

Sementara itu menurut Ketua PP LPBI NU M. Ali Yusuf, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi berulang selama puluhan tahun ini menunjukkan bahwa perlu segera ada upaya penanganan yang lebih serius dan menyentuh persoalan yang mendasar di antaranya penegakan hukum.

LPBI NU mengajak kepada Pemerintah, masyarakat dan seluruh pihak untuk segera merumuskan upaya untuk mengurangi risiko bencana karhutla dan tidak fokus penanganan darurat semata agar peristiwa yang sangat merugikan seperti sekarang ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang.