image_pdfimage_print

lpbi-nu-modul

Sebanyak 40 peserta dari lintas agama di Kabupaten Bangka baik dari organisasi Islam seperti Majelis Ulama Indonesia, Nahdatul Ulama, Kepala Pondok Pesantren dan Muhammadiyah, Perwakilan Agama Kristen Khatolik, Perwakilan Kristen Protestan, Perwakilan Agama Budha, Perwakilan Agama Konghucu dan Pemuda Konghucu di Kabupaten Bangka diajak terjun langsung ke lokasi TI.
Kegiatan ini bertujuan untuk menguji modul pengelolaan lingkungan oleh komunitas agama yang disusun dari Puslibang Kehidupan Keagamaan bersama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdatul Ulama (LPBI NU).
“Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat khususnya tokoh agama tentang pentingnya perhatian tokoh agama terhadap lingkungan,” jelas Kustini di kediaman rumah warga yang berada di dekat lokasi TI Desa Riding Panjang.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun aksi bersama antar tokoh agama agar lebih peduli terhadap lingkungan.
“Hasilnya ini akan kami susun di Jakarta baru kami bawa ke daerah sesuai dengan kondisi daerah, nanti kami akan sampaikan kepada dirjen bimas Islam dan dirjen bimas agama lain untuk disampaikan kepada tokoh agama sehingga tokoh agama punya pegangan ketika akan memberikan perhatian terhadap isu-isu lingkungan,” kata Kustini.
Dia berharap, hasil uji modul pengelolaan lingkungan oleh komunitas agama ini bisa dipakai secara nasional sebagai pedoman bagi para tokoh agama agar isu lingkungan bisa masuk dalam siar agama masing-masing.
M Ali Yusuf, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya tetapi perlu upaya untuk menjaganya sehingga perlu melibatkan komunitas agama untuk pelestarian dan konservasi lingkungan.
“Di modul ini kita petakan bagaimana masyarakat petani melakukan upaya menjaga lingkungan, masyarakat nelayan dan pesisir, masyarakat perkotaan, masyarakat yang tinggal di aliran sungai. Masing-masing masyarakat sudah ada contoh bagaimana melakukan upaya konservasi lingkungan masing-masing,” jelas Ali.
Diakuinya, hampir semua daerah di Indonesia bermasalah terhadap lingkungan. Seperti di Ibu Kota Babel Pangkalpinang yang sebelumnya jarang terjadi banjir, tapi tahun 2016 ini mengalami banjir besar.
“Kita berharap peran serta para tokoh agama ini bisa mengajak masyarakat, pemerintah membuat kebijakan pembangunan yang ramah lingkungan sehingga tidak hanya mengejar secara ekonomi tetapi juga menjaga lingkungan yang menjadi masa depan anak cucu kita,” ucap Ali Yusuf.

Kementerian Agama Libatkan Komunitas Agama Agar Peduli Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>