Ketua LPBINUTanggal 10 Januari diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Indonesia. Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim  Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Muhammad Ali Yusuf mengingatkan agar masyarakat menerapkan gaya hidup ‘hijau’ sebagai komitmen bersama secara personal dalam melindungi dan memelihara lingkungan hidup.

“Gaya hidup ‘hijau’ sebagai wujud komitmen utk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,” katanya  (10/1).

Ali menjelaskan bahwa gaya hidup ‘hijau’ yang ia maksud setidaknya mencakup empat hal, yakni, menghemat energi dan mengupayakan energi terbarukan (nonfosil), menghemat air, penyediaan resapan air dan pengelolaan limbah air, mengelola sampah dan limbah, dan menghijaukan lahan luas maupun lahan sempit.

“Jika gaya hidup personal yang “hijau” tersebut dilaksanakan secara masif, pasti persoalan lingkungan hidup akan dapat diatasi,” tegasnya.

Masalahnya, lanjut Ali, hal itu belum begitu masif mengingat perilaku masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh pola pikir yang tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, LPBI NU, kata Ali, menjadikan empat poin gaya hidup ‘hijau’ tersebut di atas menjadi prioritas program dan kegiatan.

“LPBI NU telah sejak lama aktif menyuarakan pentingnya pemahaman dan kesadaran publik untuk bergaya hidup ‘hijau’ melalui berbagai cara dan strategi dan mendorong serta mendukung aksi-aksi nyata terkait gaya hidup hijau tersebut,” jelasnya.

Lebih lanjut, pria yang memimpin Aliansi Masyarakat Indonesia untuk Myanmar (AKIM) itu juga menjelaskan bahwa LPBI NU terus mengampanyekan kepada publik tentang berbagai cara untuk meningkatkan pemahaman dan mengunggah kesadaran mereka terkait persoalan lingkungan.

Tidak hanya itu, LPBI NU juga mendorong dan memfasilitasi publik untuk melakukan aksi nyata guna memberikan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Konservasi air dan pengelolaan limbah air, penanaman pohon dan bakau (mangrove) di berbagai daerah, dan pengembangan teknik hidroponik untuk penghijauan di lahan sempit adalah beberapa program yang telah dan terus dilaksanakan oleh LPBI NU.

Di samping itu, pendirian Bank Sampah Nusantara LPBI NU juga gencar dilakukan. Saat ini, katanya, Bank Sampah Nusantara LPBI NU sudah berjumlah 150 Cabang di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan mengingat program tersebut tidak hanya melestarikan lingkungan, tetapi juga meningkatkan ekonomi.

Untuk pengelolaan sampah melalui bank sampah Nusantara, LPBI NU ingin mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas yang tidak saja memberikan manfaat bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi,” ungkapnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)